HOME

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, June 29, 2014

Perspektif Pencerahan dan Idealisme Pendidikan Kita

Pendidikan, sebagai daya pacu derap peradaban, pada prinsipnya berorientasi kepada pencerahan manusia dan dunia. Pelbagai kalangan akademisi dewasa ini, baik personal maupun institusional, gencar berbicara dan berdiskusi tentang dunia pendidikan kita. Idealisme pendidikan sebagai dasar dan penggerak laju peradaban kini seakan tengah diselimuti oleh kabut pekat masalah. Dunia pendidikan kita di Indonesia, baik pada tingkat nasional maupun lokal, dililit aneka persoalan krusial yang menuntut perbaikan.

Pendidikan yang berikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa acapkali berurusan dengan masalah "pembodohan". Praksis formal maupun informal pendidikan banyak kali melenceng dari tujuannya. Secara internasional disinyalir bahwa kebanyakan output  pendidikan kita memiliki kualitas dibawah standar normal. Bahkan kerapkali dinilai bahwa pendidikan kita dalam beberapa dekade terakhir bercorak dehumanistis. Disana, pendidikan bukan lagi menjadi ajang pergolakan intelektual melainkan menjadi sarana pendiktean kepentingan-kepentingan. Masalah klasik indoktrinasi, sentralisasi kurikulum yang berkonvergensi kepada litani kemiskinan intelektual, kebodohan, pengangguran dan disparitas sosial masih tetap ditakar menurut  deret ukur. Kian hari kian meluas. Bila tidak segera disikapi, maka bukan tak mungkin dimasa depan bangsa ini mengalami gerak mundur peradabannya. Dia bisa kembali kepada fenomena "primitif purba" dimana kekuatan bukan terletak pada daya saing rasional melainkan fisis-emosional. Dengan demikian aksi primitif kriminal seperti seperti yang tengah berkecamuk dibeberapa wilayah tanah air kita saat ini tetap akan bercokol lebih lama lagi.

Sebagai saksi, mungkin pula pelaku dari aneka permasalahan itu, baiklah kita menyadarinya sebagai tanggung jawab kita. Masalah pendidikan tidak melulu menjadi masalah "pencerdasan" bangsa, melainkan sudah harus ditempatkan sebagai problematika kemanusiaan. Kita turut prihatin terhadap apa yang dirasakan oleh sebagian masyarakat bangsa ini yang masih terkungkung dalam belenggu kebodohan. Tuntutan etis kemanusiaan inilah kiranya yang bakal menghantar kita kepada penemuan "titik cerah" demi menanggapi, menyikapi, memahami, mempertimbangkan, memutuskan lalu menilai cara yang bisa kita sumbangkan dari aneka perspektif terhadap persoalan pendidikan bangsa ini. Perspektif pencerahan dan idealisme kita mengandungmakna etis terhadap problem ini, secara konseptual pun praktis, langkah apa yang paling tepat untuk segera diambil?